Just another WordPress.com weblog

Oleh, Nurul Hadi Abdi, Lc.§

Sebagaimana telah dimaklumi, pesantren adalah lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam (Islamic studies). Penghuni lembaga ini (selanjutnya disebut santri dan kiai) melakukan aktivitas pendidikannya (KBM) selama 24 jam (full time); baik formal maupun non-formal. Jadi, secara kuantitas waktu efektif belajar, pendidikan yang ada dalam pesantren tentu mengungguli semua lembaga pendidikan nasional yang sudah menerapkan full day system (10-12 jam/hari). Namun sudah jamak diketahui bahwa stressing pendidikan formal (classical) yang diterapkan seluruh lembaga pendidikan di Indonesia (baca: non-pesantren) semacam ini lebih kepada kecerdasan intelektual (IQ) daripada kecerdasan-kecerdasan yang lain. Tolok ukurnya adalah prestasi peserta didik standard-nya adalah tinggi-rendahnya nilai mereka secara kognitif.

Sementara, di pesantren rupanya juga sangat efektif dalam menumbuhkan kepekaan social para aktivisnya; mulai dari kiai (sebagai top leader) sampai para santri (dari golongan grease-root pesantren) yang notabene masih berstatus pelajar atau siswa di tingkat pendidikan dasar (SD/MI) sampai pendidikan menengah (SLTP/SLTA) atau bahkan di perguruan tinggi. Hal ini tentu menjadi nilai plus bagi pendidikan di pesantren, karena selain kecerdasan intelektual (IQ) yang terbiasa diasah dalam pendidikan formal, kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) juga diasuh dalam pendidikan pesantren. Sehingga, tiga kecerdasan penting, yaitu ESQ (meminjam istilah Ari Ginadjar) dan IQ tumbuh subur dalam pesantren.

ESQ memang menemukan lahan yang sangat empuk di pesantren, baik terbentuk secara sengaja (by design) maupun tidak. Secara “sengaja” yang penulis maksudkan di sini, artinya telah dipersiapkan dengan system dan metodologi oleh pesentren itu sendiri, biasanya dalam bentuk peraturan atau undang-undang (dasâtîr) bahkan dalam bentuk surat-surat edaran yang sifatnya “anjuran”. Sedangkan secara “tidak sengaja”, kepekaan social –lebih familier disebut emotional question (EQ)— berjalan secara klindan dalam komunitas santri yang heterogen dan dalam permasalan keseharian yang variatif.

Saatnya kini penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menyimak lebih dalam tentang species santri dalam pergumulan dan tindak-tanduknya sehari-hari, hingga berangsur-angsur tumbuh dalam diri [kepribadian] mereka kepekaan social yang penulis maksudkan. Ada tiga factor yang signifikan dalam mempengaruhi kepekaan social santri dalam pergaulannya sehari-hari: Pertama, dari status social yang sama. Yaitu kesamaan santri yang jauh dari ortu secara fisik. Kedua, kompleksitas permasalahan keluarga atau lingkungan hidup mereka sebelum masuk pesantren. Ketiga, latar belakang kultur dan tradisi mereka yang varian. Ketiga faktor tadi terus bersenergis dengan bimbingan dan didikan dari para asatidz dan kiai yang mengawal kehidupan mereka. Hal ini diluar pengaruh undang-undang (dasâtîr) yang mengharuskan mereka untuk tunduk dan berjalan di atas rel etika pergaulan yang berpedoman Al-Quran dan Sunnah.

Sedangkan dari factor undang-undang (dasâtîr) dan system yang ada dalam pesantren, kepekaan social semacam ini mejadi satu-kesatuan dalam konsep pembentukan pribadi santri yang ber-akhlaqul karimah (akhlak mulia). Seluruh undang-undang (dasâtîr) yang diterapkan tidak asal-asalan, landasan normative Al-Quran dan Hadits nabi sebagai pedoman hidup umat Islam yang sudah terbukti ramah lingkungan menjadi basic dari semua aturan main pesantren. Contohnya adalah kewajiban untuk shalat berjamaah, memakai seragam, kerja bakti social, dan kesopanan dalam interaksi dengan para asatidz dan kiai serta pelbagai aturan lainnya.

Setiap aturan, pada hakekatnya, dimaksudkan untuk membentuk kepribadian santri agar lebih disiplin, peka social dan berakhlak mulia. Dengan demikian, alumni pesantren nantinya diharapkan mampu berdikari dan siap pakai (ready for use). Karena pendidikan formal yang ada di pesantren memberi amunisi bagi santri di bidang skill dan pengetahuan secara umum. Sedangkan pembinaan akhlak dan spiritual mereka lebih banyak terbentuk dalam pergumulan kaum santri di lingkungan pesantren. Hal inilah yang akan banyak memberi inspirasi mereka layaknya dalam kehidupan yang riil, terutama setelah mereka berada di tengah-tengah masyarakat kelak.


  • § Penulis adalah santri dan tenaga pengajar PP. Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan, alumni Al-Azhar University Cairo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: