Just another WordPress.com weblog

catatanku

Aku Lulus

-o0 refleksi penggapaian prestasi dan motivasi diri 0o-

Oleh, Nurul Hadi Abdi

 

Tak kuasa kutorehkan tinta, untuk melukiskan kebahagian yang saat ini aku rasa. Tak dapat kuberdusta, atas sukacita yang aku yakin banyak orang yang mendambanya. Aku berteriak, mengagungkan asma Allah:

Allahu Akbar, Allah Mahabesar.

Allahu Akbar, Allah Mahabesar.

Allahu Akbar, Allah Mahabesar.

Pekikan takbir, yang bergemuruh dalam hati, mengalir seakan tak pernah pedulikan gundah kelana hati ini. Hanya satu yang terngiang, aku lulus tahun ini. Aku terpekur menekuk lutut bersujud pada-Mu. Aku bersyukur, alhamdulillah, atas selesainya jenjang S1-ku di Universitas Al-Azhar Kairo dengan nilai yang tak kalah mengejutkan. Terima kasih Tuhan.

Kata “lulus”, ternyata tidak semua orang dapat melafalkannya dengan mudah. Sementara aku, tidak terlalu kesusahan untuk mengungkapkannya. Sebab, selama empat tahun ini, mulai tahun pertama aku mencicipi bangku Universitas di Al-Azhar Kairo (tk. 2003-2004) belum pernah mengalami kegagalan pada masing-masing tingkat (level) setiap tahunnya. Pendidikan S1 telah aku lalui relatif lancar, akhirnya pada 21 Agustus 2007 (tk. 2006-2007) aku menikmati kelulusan di jenjang strata 1 perguruan tinggi.

Banyak kawan mengatakan, aku cukup berhasil meraih tangga-tangga prestasi pendidikan di Al-Azhar. Karena yang sering dijadikan ac

uan mereka adalah “sulitnya” menggapai kata “lulus” pada tiap tingkatan (level) pendidikan di universitas Islam tertua ini. Memang, tak jarang mahasiswa yang harus DO (drop out) karena turus-menerus mengalami kegagalan (max. 3 kali) dalam satu tingkat (level) yang sama. Sedangkan yang gagal satu kali atau dua kali pada masing-masing tingkat (level) setiap tahunnya, hampir mencapai angka “rata-rata” untuk mahasiswa asing yang belajar di sini. Apalagi, pilihan fakultas yang menjadi favoritku, ternyata adalah “momok” kekelulusan bagi kebanyakan mahasiswa Al-Azhar. Pantas, sedikit sekali mahasiswa Indonesia yang memilih fakultas Bahasa Arab bersamaku di universitas ini.

Setelah aku coba renungi, kira-kira apa yang menjadi factor pendorong di balik “kelancaranku” dalam menempuh pendi

dikan di Al-Azhar? Bahkan tanpa sedikit pun mengurangi aktivitas organisasi, yang selama ini terus melekat dalam agenda keseharianku dan terus aku gandrungi sampai detik-detik penghabisan masa studi di S1 (tingkat IV) ini. Sengaja aku sebut sedikit tentang kesibukan ini, karena masih banyak kawan-kawanku menganggap, “aktivitas organisasi menjadi penghalang prestasi”. Di sini, sedikit aku coba diskripsikan hasil renungan tadi, dengan harapan aku terus bisa mengavaluasi “kel ebihan” dan “kekurangan” dari factor-faktor tersebut yang —untuk sementara waktu ini— aku yakini cukup banyak memberiku motivasi. Factor-faktor itu aku singkat dengan 3 K, yaitu: Kekuatan Mental dan Keinginan, Kekuatan Usaha dan Kekuatan Spiritual.

Pertama, kekuatan mental dan keinginan. Hal ini kadang dianggap sepele, seakan ini tidak lagi menjadi rahasia kesuksesan seseorang. Tapi bagiku, ini adalah sesuatu yang teramat mahal. Aku selalu ingat peri bahasa Arab yang berbunyi: himmatu ar-rijâl tahdimu al-jibâl (keinginan kuat orang laki-laki dapat menghantam kerasnya gunung yang menjulang tinggi). Aku sadar, bahkan semua orang tahu, bahwa tembok Al-Azhar terlalu besar dan teramat tinggi untuk kita lalui. Aku harus punya banyak perangkat untuk dapat menembus ketegarannya yang sejak berabad-abad lamanya telah berdiri kokoh mewarnai sejarah dunia Islam dengan tinta emasnya. Ya, sejarah pun akui itu semua. Tapi, apa bedanya tembok itu dengan gunung seperti dalam peri bahasa tadi? Gunung lebih lama menjulang angkasa, bebatuannya yang cadas telah melibas dunia sejak pertama kali bumi ini ada. Aku semakin yakin akan besarnya pengaruh mental dan keinginan, sebagaimana Nabi Musa sanggup melawan kedigdayaan Fir`aun dan para serdadunya dengan modal mental dan keinginan semacam ini. Aku pun melebur ke dalam jiwa Musa untuk mengalahkan mental Fir`aun di negeri para nabi ini.

Kedua, kekuatan usaha keras (study hard). Ini adalah bagian dari proses kegemilangan. Suatu saat, aku berkesempatan untuk berkunjung ke Piramida di daerah Giza sebelah selatan kota Kairo. Di sana berdiri tegak tiga bangunan besar berbentuk segitiga yang sampai saat ini menjadi keajaiban dunia. Subhanallah, 5000 tahun lebih bangunan batu besar itu melawan waktu, kekokohannya disaksikan berjuta manusia dari generasi ke generasi silih berganti. Begitu pula, sisa-sisa kerajaan Fir`aun yang terletak di Luxor dan Abu Simbel, yaitu kawasan kota kono Mesir di bagian utara. Dari sini, aku coba berkontemplasi, bahwa ternyata sebuah keinginan dan cita-cita tak mungkin tercapai tanpa ada usaha keras untuk mewujudkannya. Sebagaimana Piramida, yang menjadi cita-cita Raja Fir`aun yang bernama Syufu’ untuk membuat satu makam pribadinya itu, akhirnya mampu berdiri kokoh, setelah kurang lebih 200 tahun masa pembangunannya. Lalu aku, bisakah melewati tantangan pendidikan di Al-Azhar yang tentu  

Ketiga, kekuatan spitual dan doa. Sulit dimengerti memang, tapi bagiku, hal ini adalah realitas. Bahwa, manusia adalah makhluk yang sangat lemah tidak bisa dipungkiri. Bahwa aku, adalah manusia yang tak berdaya dan punya banyak keterbatasan tak bisa dielakkan lagi. Satu pilihan yang selalu aku coba lakukan dalam setiap hal, termasuk kesuksesan studi, yaitu berserah diri kepada Allah dan sepenuhnya memohon pertolongan-Nya. Banyak cara untuk mencapai kekuatan spirituah semacam ini, seperti banyak merenungi ayat-ayat Al-Quran, melakukan puasa dan shalat malam. Persis seperti yang dilantumkan Opik dalam trik obat hati (tombo ati)nya.

Ya, begitulah aku. Dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang kumiliki, aku coba tuk membenahi. Dengan semangat itulah, dengan segala usaha dan upaya aku mulai, menelusuri jalan panjang pendidikan yang tentu banyak rintangan dan hambatan. Sampai saat ini, aku masih sadari kekurangan demi kekurangan itu. Sudah saatnya aku berbagi, mencari dan terus menambah ilmu sambil meniru filsafat air. Ia menjadi sumber kehidupan semua makhluk hidup, tapi ia tetap dengan sifatnya yang tawadhu’; hanya mengalir ke hilir pada tempat yang lebih rendah. “Ya Allah, berilah hamba-Mu ini kekuatan untuk mencari ridha-Mu dalam kebaikan. Ya Allah berikanlah ilmu yang bermanfaat dan berikan hmaba-Mu ini jalan untuk memanfaatkannya dalam kebaikan dan kebenaran di jalan-Mu”. Amin.

Kairo, 10 September 2007

Malam Wisuda Sarjana

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: