Just another WordPress.com weblog

kemunculan bahasa

Kemunculan Bahasa

(Teorisasi Tinjauan Historis)

Oleh, Nurul Hadi Abdi

 

Bahasa, apapun bentuknya, merupakan kunci terpenting terbentuknya peradaban dan kemanusian di dunia —tentunya setelah ditopang oleh faktor-faktor lain yang menjadi pembentuk keduanya, seperti agama, kepercayaan dan tradisi—, karena keberadaan dan kemunculan keduanya menjadi bagian tak terpisahkan daripada kemunculan bahasa itu sendiri. Tidak berlebihan, kalau dikatakan bahwa: “Tanpa bahasa tidak akan ada kemajuan, peradaban dan kemanusia”. Karena peradaban yang sejatinya adalah hasil karya dan karsa manusia, tentu erat kaitannya dengan bahasa, mengingat eksistensi manusia itu sendiri (secara individual maupun komunal) identik dengan adanya bahasa masing-masing; baik sebagai alat komunikasi antar sesama ataupun sebagai media publikasi peradaban.

Sedangkan kemajuan yang bisa dijadikan standar dalam fase-fase berikutnya, hanya dapat dinilai dari sejauh mana manusia mengolah pikirannya untuk menghasilkan sebuah peradaban tersebut. Jadi, ketika manusia didefinisikan sebagai “Al-Hayawânu Al-Nâthiqu” (hewan yang berpikir) sebagaimana telah dirumuskan oleh filosuf Prancis abad ke XVII (baca, R. Descartes), secara otomatis aktivitas berpikir pada manusia identik dengan bahasa yang digunakan, sedikitnya karena dua hal; pertama, kata al-nâtiq dalam definisi manusia tadi, yang selanjutnya diartikan dengan ‘berpikir’, pada dasarnya adalah kata yang bermakna ‘berbicara’. Di mana unsur kata tersebut yang berasal dari (ن. ط. ق) adalah unsur kata dalam bahasa Arab yang mempunyai makna berbicara (to speak), hal itu terjadi bukan tanpa alasan, sebab aktivitas berpikir pada manusia tidak bisa dipisahkan dari aktivitas berbahasanya dalam cakupan yang lebih luas.

Kedua, bahasa dan pikiran merupakan keistimewaan yang hanya diberikan oleh Allah Swt. kepada manusia, tidak pada binatang dan tumbuh-tumbuhan (Abd Hamid Muhammad Abu Sikin, Al-Madkhal fi `Ilmu Al-Lughah; [Al-Azhar University, 2003, Cairo], hlm. 35). Hal ini diperkuat oleh analisis Michael C. Corballis tentang spesialisasi bahasa bagi manusia, mengatakan: “Bahasa, sebagaimana ditegaskan oleh Descartes, adalah pemberian tuhan yang menjadi keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, ini dipertajam juga oleh F. Max Muller, ahli bahasa dari Oxford University, berkata: ‘Bahasa adalah pembatas kerajaan kita (manusia, red.), karena semua binatang tidak akan bisa mendapatkannya.'” (Michael C. Corballis, Fi Nasy’ati Al-Lughah, terjemahan Mahmoud Majid Umar; [`Alam Al-Ma’rifah, 2006, Kuwait], hlm. 37).

Setelah kita yakin bahwa bahasa hanya milik manusia, lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana bahasa itu muncul dalam kehidupan manusia? Dan untuk menjawabnya, tentunya bukan sesuatu yang mudah, sebab ini terkait dengan sejarah manusia mulai dari Adam As sebagai bapak pertama manusia (abu al-basyar) —sebagaimana yang kita yakini— berikut perkembangan selanjutnya dalam komunitas masyarakat yang meniscayakan adanya interaksi sosial di dalamnya, dengan demikian secara otomatis kemunculan bahasa berjalan secara klindan dengan kemunculan komunitas sosial masyarakat sebagai kebutuhan interaksi, hingga sangat tepat kalau bahasa disebut sebagai salah satu unsur “gejala sosial”. Maka atas dasar itulah, kemudian terdapat beberapa perbedaan radikal di antara para filosuf dan ahli bahasa dalam melihat proses awal kemunculan bahasa di tengah komunitas sosial masyarakat tersebut. Namun, secara umum, penulis ingin menjabarkan teori-teori para ahli bahasa dan sikap mereka dalam memandang kemunculan bahasa tersebut sebagai gejala sosial (Al-Madkhal fi `Ilmu Al-Lughah; [Al-Azhar University, 2003, Cairo], hlm. 55);

Teori Tauqifi (pemberian langsung dari Allah Swt.; berupa wahyu atau ilham). Teori ini berlandaskan pada teks dan logika, karena dalam teks Alquran misalnya sudah sangat jelas Allah Swt. berfirman: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,” (QS Al-Baqarah [2]: 31). Sementara secara logika, manusia membutuhkan bahasa yang disepakati dan dipahami bersama dalam komunitasnya sebagai mahluk sosial untuk alat komunikasi antara yang satu dengan lainnya, maka jika masing-masing orang membuat “istilah kata” sendiri-sendiri, mustahil akan terdapat kesepakatan di dalamnya, sehingga akan membutuhkan istilah lain yang bisa disepakati dan dipahami bersama, dan begitu seterusnya hingga akan terjadi apa yang disebut dengan lingkaran setan (daur dan tasalsul) yang tidak ketahuan ujung pangkalnya. Bukankah Allah Swt. telah menegaskankan, bahwa  segala sesuatu yang datangnya bukan dari Allah Swt. pasti akan terdapat perbedaan dan perselisihan yang banyak di dalamnya, Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 82). Yang berpendapat dengan teori ini adalah Heroklitos (filosuf Yunani kuno), Ibnu Faris, Abu Ali Al-Farisi, Al-Akhfasy —dalam salah satu pendapatnya— (ahli bahasa Arab) dan Ronald (filosuf Prancis).

Teori Muhâkah (meniru), yaitu dengan asumsi bahwa bahasa muncul pertama kalinya dengan meniru bunyi yang didapatkan dari sebuah peristiwa atau tindakan pada saat melakukannya pertama kalinya, disesuaikan dengan penangkapan akal manusia pada saat itu, misalnya kata batuk diambil dari bunyik khuk..khuk, kata kentut diambil dari bunyi tuut dan lain sebagainya. Abu Fatah Utsman Ibnu Jinny dalam kitab Al-Khashâishnya menjelaskan hal ini dalam bab Al-Qaul `Ala Al-Binâ’ (Al-Khashâish, tahqîq Mohamad Ali Al-Najjâr, Juz I, [Maktabah Usrah, 1999, Cairo], hlm. 47), kemudian secara tegas Ibnu Jinny menyatakan kecondongannya terhadap teori ini.

Teori Muwâdha`ah (perumusan bahasa), teori ini kebalikan dari teori wahyu atau ilham sebelumnya (taufiqi). Dengan asumsi bahwa bahasa diciptakan atas dasar kesepakan bersama secara spontanitas. Karena manusia dalam sebuah komunitas sosial membutuhkan saling kesepahaman dalam menjalankan interaksinya, oleh karenanya kebutuhan untuk menciptakan istilah dan bahasa yang disepakati adalah sebuah keniscayaan sosial. Yang berpendapat dalam teori ini adalah Demokritos (filosuf Yunani kuno), Abu Ali Al-Farisi, Abu Hasan Al-Akhfasy (ahli bahasa Arab), Adam Smith dan Deglade Stewart (ahli bahasa dari Eropa). Akan tetapi, menurut Prof. Dr. Abd Hamid Muhammad Abu Sikin, teori terahir ini tidak berlandaskan kepada argumentasi dari teks, historis maupun logika, karena pada dasarnya teori ini dirumuskan —lebih cenderung— sebagai reaksi dari teori tauqifi sebelumnya.

Selain teori-teori lama di atas, sebetulnya masih banyak teori-teori moderen yang lain berbeda dengan teori-teori kemunculan bahasa ini, di antaranya adalah Teori Instink Bahasa (instinct of language), dalam teori ini, bahasa yang ada dikembalikan kepada daya tangkap hati individu manusia (instink) tentang makna dan bahasa yang sesuai dalam setiap aktivitasnya, seperti ketawa, menangis, sedih, senang dan lainnya. Teori ini diajukan pertama kali oleh Max Muller (Jerman) dan Renan (Prancis).

Sedangkan teori yang lainnya adalah Teori Perkembangan Bahasa (development of language), di mana bahasa yang diyakini muncul secara alami dari kecondongan hati manusia yang suci, terus berkembang secara gradual dan berangsur-angsur selama melakukan interaksi dalam masyarakat sosial. Kekuatan teori ini ditopang oleh beberapa bukti perkembangan bahasa manusia mulai dari bahasa isyarat menjadi bunyi dengan segala bentuknya, lalu beralih pada kata-kata (al-kalimât) dan ahirnya berkembang menjadi kalimat (al-jumlah) dalam bentuknya yang lebih sempurna sampai menjadi bahasa manusia yang utuh. Teori ini nampaknya menjadi pilihan sebagian besar ahli bahasa moderen, karena diasumsikan lebih mendekati kebenaran.

Walaupun pada hakikatnya, kemunculan bahasa dalam pandangan Michael C. Corballis, dimulai dari bahasa isyarat, maka dari itu pernyataan: “pokok bahasa (jauharu al-lughah) ada pada perkataan (kalam)” tidak sepenuhnya benar. Sebab, secara keseluruhan segala sesuatu bermula dari isyarat (ini/itu), terbukti dengan masih adanya beberapa bahasa isyarat yang masih ada sampai sekarang dan dipahami secara alami oleh semua manusia di seluruh dunia, seperti isyarat tangan untuk menunjuk sesuatu, isyarat mata untuk kode tertentu, isyarat kepala untuk mengiyakan sesuatu dan isyarat-isyarat lain yang menunjukkan terhadap kalimat-kalimat tertentu yang lain (Fi Nasy’ati Al-Lughah, hal. 57). Karena hakikat bahasa dalam pandangan Heidegger bukan hanya terfokus pada kata-kata yang dilafalkan (al-manthûq [Arab]/spoken [Inggris]), tapi juga yang diam (al-lamanthûq [Arab]/unspoken [Inggris]). (Dr. Said Taufiq, Fi Mâhiyati Al-Lughah wa Falsafatu Al-Ta’wîl, [Muassasah al-Jâmi`iyyah li al-dirâsât wa al-nasyr wa al-tauzî’, 2002, Beirut], hlm. 31)

Perkembangan bahasa berikutnya muncullah bahasa secara definitif yang terbagi ke dalam beberapa fase, sebagaimana berikut: Fase pertama; adalah bunyi kekanak-kanakan yang muncul mulai dari masa balita, pada saat itu bunyi yang merupakan cikal-bakal bahasa masih belum bisa dipahami secara sempurna, kemudian fase kedua bunyi yang ditangkap dari meniru (muhâkah) dalam bentuk yang paling sederhana, seperti sebutan (maa) atau (paa) bagi anak-anak balita untuk memanggil ibunya atau bapaknya. Fase ketiga adalah bunyi yang berulang-ulang (al-maqâthi’ al-mutakarrir), fase keempat adalah pelafalan kata-kata (dalam bahasa Arab disebut kalimah atau mufradât), fase kelima adalah pembuatan kalimat (jumlah [Arab] dan phrase [Inggris]) serta istilah-istilah dan terahir fase keenam adalah kodivikasi kaidah bahasa (qawâid al-lughah, grammer).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: