Just another WordPress.com weblog

Pers dan “Hidup-mati” Dinamika

-o:: membaca masisir perspektif jurnalistik ::o-

Oleh, Nurul Hadi Abdi

“Membaca untuk hidup” (al qirâ`ah lil hayat), slogan ini belakangan sangat gencar dipropagandakan Suzan Mubarak di Mesir dalam program “Festival Membaca untuk Semua” (al qirâ`ah lil jamî’). Sebuah gerakan nasional untuk sosialisasi asas revolusi, revivalisasi atau reformasi masyarakat luas dalam segala aspek kehidupan manusia. Yang patut digarisbawahi di sini, kenapa “membaca” menjadi begitu urgen? Sehingga eksistensinya berkaitan erat dengan “hidup-mati” seseorang. Benarkah seseorang akan mati, apabila dia tidak pernah membaca dalam hidupnya? Pertanyaan filosofis ini, tak perlu dijawab penulis di sini. Karena saya yakin, dilihat dari kacamata apapun jawabannya pasti menuju satu titik persamaan: “membaca urgen bagi siapa saja”.

Namun demikian, yang coba saya singgung kali ini adalah keterkaitan kegiatan “baca” dengan “karya tulis” yang —dalam hemat saya— menjadi proses aktualisasi diri (tahqîqu al-dzât) terpenting dalam hidup. Ini, bukan berarti saya menafikan cara lain dalam proses aktualisasi diri seseorang, tapi apapun caranya, saya berani menjamin bahwa pada akhirnya untuk melestarikannya akan sangat terkait langsung dengan kegiatan tulis-menulis; baik dilakukan sendiri maupun oleh orang lain. Makanya, sengaja saya tekankan di sini, bahwa “karya tulis” merupakan bagian terpenting untuk tahqîqu al-dzât tadi.

Baiklah, dari diskripsi singkat di atas tentang hubungan timbal-balik antara: “membaca-menulis & hidup”, saya ingin menariknya secara lebik spesifik ke dalam dunia pers masisir dan kontribusinya dalam “hidup-menghidupi” dinamika mahasiswa Timur-tengah.

Geliat dinamika mahasiswa Mesir pasca era 90-an disinyalir menunjukkan tingkat kemajuan. Perkembangan ini, bukan hanya dirasakan sendiri oleh komunitas yang belakangan akrab disebut masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) ini. Bahkan sejumlah tokoh nasional pun memberikan komentar yang sama, bahwa realitas masisir pasca tahun 90-an memiliki karakteristik yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (sumber: Sewindu PPMI, Mencari Titik Terang Pergerakan Masisir, oleh Zainurrofieq, dalam Memoar Aktivis PPMI, periode 2002-2003 [hlm. 172]). Di antara tokoh yang berkomentar saat itu, dalam catatan Zainurrofieq, adalah Prof. Dr. Umar Shihab, Prof. Dr. Nurcholis Majid [alm.], Prof. Dawam Raharjo, Didik J. Rachbini, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Bachtiar Efendi dan banyak lagi intelektual Indonesia yang sempat berkunjung ke Mesir.

Yang menarik dari penilaian para tokoh tersebut, bahwa kemajuan masisir pasca tahun 90-an terkait dengan semakin maraknya kegiatan jurnalistik masisir. Salah satu komentar tokoh-tokoh nasional di atas yang sempat direkam oleh Muladi Mughni, Lc. dalam catatannya: Mahasiswa Mesir, Dulu dan sekarang (Memoar Aktivis 3, PPMI periode 2004-2005 [hlm. 74]), disebutkan bahwa: Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam kunjungannya yang ke-3 pada tahun 2002 ke Kairo, sempat mengatakan, “perkembangan dinamika tulismenulis mahasiswa Mesir pasca 90-an jauh lebih maju dan semarak ketimbang tahun-tahun sebelumnya”. Ini tentunya sangat mengembirakan, karena stigma jumud, tidak bisa menulis dan tidak analitik yang sering dialamatkan kepada alumni Timur-tengah termasuk Mesir, sedikit demi sedikit terus dibenahi.

Memang, kalau kita mau tilik sejarah dinamika masisir sejak tahun 1913, tahun pertama kali dideklarasikannya organisasi pelajar mahasiswa jawi dengan nama “Jam`iyah Setia Pelajar” dengan jumlah anggota 12 orang. Dinamika ini dapat kita rasakan kontribusinya, karena mampu menerbitkan majalah yang diberi nama “Al-ittihad”. Majalah ini ternyata bukan hanya beredar di Kairo sebagai pusat aktivitas dewan redaksinya, tapi juga disebarluaskan di Makkah, Malaya dan Hindia Belanda. Hingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas, terutama orang melayu. Kemudian pada tahun 1923, seiring munculnya kembali organisasi pelajar di Mesir dengan nama: “al-Jam`iyah al-Chairiyah lit Thalabah al-Jawiyah”, kembali diterbitkan jurnal “Seruan Azhar”, sebagai upaya memajukan Islam dan mencapai kesatuan kaum Muslimin. Lalu setelah mengalami beberapa pergantian nama organisasi, tidak terdengar lagi adanya media jurnalitik yang menyuarakan aktivitas mahasiswa; baik yang berkenaan dengan pergerakan maupun pemikiran, sampai muncul HPPI (Himpunan Pemuda Pelajar Indonesia) pada tahun 1966 di bawah kepemimpinan Djazuli Nur dan Gusdur sebagai Sekjendnya. Saat itu, terbitlah HIMMAH sebagai media jurnalistik mahasiswa sampai tahun 80-an.

Setelah sedikit-banyak kita tahu geliat dinamika masisir sebelum era 90-an, mari kita lihat perkembangannya pada dekade terakhir, terutama sejak 1995 tahun kelahiran PPMI Mesir. Pada tahun yang sama, seiring redupnya HIMMAH bersama kevakuman HPMI sampai akhirnya muncul PPMI, aktivis jurnalis masisir merintis media mahasiswa Kairo dengan format bulletin yang independent. Bulletin ini diberi nama Terobosan dan masih eksis sampai sekarang. Selama 17 tahun ini, dinamika pergerakan dan pemikiran masisir dapat terpublikasikan dengan baik berkat adanya bulletin tersebut. Tentunya dengan segala upaya perjuangan menjaga “kemandirian”nya sebagai lembaga pers pertama yang independent.

Penguatan fungsi pers dari semua lininya, terus saja dikembangkan oleh masisir dari masa ke masa; mulai dari fungsi informasi, fungsi hiburan, fungsi pendidikan sampai kepada fungsi kontrol social dan pemerintahan. Dua tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1997 ICMI orsat Cairo juga tak mau ketinggalan dengan mendirikan bulletin Informatika. Berbagai wahana pengembangan tulis-menulis sejak awal sudah dimediasi dan diapresiasi oleh Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) sejak pertama kali mengembangkan sayapnya di Kairo pada tahun 1991. Salah satu indikasinya, penerbitan Jurnal OASE yang terus mewarnai dinamika jurnalistik masisir sejak tahun 1993.

Sementara itu, PPMI pada tahun 2004 mulai menghidupkan media pers sendiri sebagai corong pemerintahan mahasiswa yang menganut SGS (student government system) sejak tahun 2003 dengan nama Suara PPMI. Walau pada mulanya, Suara PPMI masih belum mampu mengimbangi penerbitan dua media pers (baca: Terobosan dan Informatika) yang lebih awal eksis, namun pada tahun kemarin (baca: periode 2006-2007) Suara PPMI mulai dilirik berbagai kalangan. Karena penerbitannya dianggap mampu menjembatani pelbagai fungsi pers tadi, terutama fungsi control social dan pemerintahan, dalam hal ini masisir vis a vis KBRI Cairo. Ini jelas memudahkan pembacaan kita terhadap pergerakan mahasiswa yang diwakili oleh PPMI sebagai organisasi induk masisir dari segala aspek aktivitas pergerakannya. Sedangkan dari aspek dinamika intelektual dan pemikiran, PPMI Mesir sejak tahun 2007 ini kembali menghidupkan HIMMAH yang sudah lama mati. Kali ini, HIMMAH terbit dengan format barunya berbentuk jurnal ilmiah sebagai media aktualisasi intelektual masisir.

Selain media pers di atas, nampaknya dinamika tulis-menulis tidak berhenti dalam ruang lingkup organisasi induk. Karena, hampir seluruh organisasi masisir dengan seluruh ragamnya turut menelorkan media pers sebagai sarana aktualisasi masing-masing organisasi. Sebut saja, Afkar diterbitkan PCI-NU Mesir, SINAR diterbitkan oleh PCIM Mesir, bulletin SINAI diterbitkan oleh LSM-SINAI, La Tansa oleh IKPM cabang Kairo, bulletin Qolam oleh IKBAL Cairo, Suara Game’ oleh kawan-kawan IKMAS, Revival oleh organisasi angkatan Revival el-Mahbub dll.. Dengan demikian, benar sudah, bahwa pers bagi masisir adalah warna “hidup-mati” dinamikanya. Maka eksistensinya harus tetap dipertahankan dan diperjuangkan, agar dinamika itu sehat dan terus hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: